Sinar Tepi Senja

Suasana kotaku tengah beradu dalam sinar senja dan rintik hujan kasih, Hatiku yang sedang berdialog tentang rindu, atau memang hanya wujud akan rasa yang senantiasa senang menari. Entahlah.

Embun datang memainkan perannya dikala senja. Datang dari bekas hujan dalam pegunungan mengiringi rasa rindu. Bermandi sinar senja yang beradu dengan warna abu ke putihan. Rindang pohon digelayuti air yang menetes perlahan tampak terpapar warna pekat merah ke-jinggaan. Titik tentang kisah senja dalam rimbunya pohon pinus beradu dalam tawa meradang tentang kekasih pada wujud paparan sinar tepi senja dalam warna merah pekat yang hangat.

Begitu jua ketika aku menatapmu kasih, seperti terlena akan waktu tapi waktu berlalu tanpa waktu tahu menahu akan pekat rindu-ku. Sekejap saja dalam rinai hujan aku ingin berada dalam dekap walau itu sekejap aku menetap dalam teduhnya lengan tanganmu dan lapang rasamu walau dengan tatapku yang haus akan-mu. Tanpa dimengerti rasa rindu pun begitu menggelayuti lalu menuntut agar lunas. Entah. Rindu kurasa seperti pembunuh, ia datang menikam memeras pada bilah rasa, lalu mulai menghilang merampas tanpa belas kasihan bermain rapih dalam peran.

Rindu oh rindu, semoga tanganku bisa menggapai kasih itu yang sembunyi dalam gelap dan sinar tepi senja menuntun tapak yang gundah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mawar yang telah lalu.