Setapak.
Sini singgah sebentar kekasih, akan aku ceritakan tentang secuplik kehidupan pak tua yang berjalan didepan jalan itu.
Ia suka berjalan sendiri menikmati pekat aroma aspal yang teriknya membakar kulitnya yang sawo matang itu. Berjalan santai diantara mobil dan motor orang orang. Tapi? Raut mukanya penuh bahagia, senyum itu ikhlas sekali kekasih. Senyum itu bikan tependar bukan karena peradaban ataupun keterpakasaan. Tapi, lihat apakah ia terlihat memakai topeng agar tidak tersisihkan oleh jalanan? Disisihkan dari sosial? Disisihkan soal strata? Tidak. Lihat dia tetap tegap bejalan menapak kehidupan yang fana ini kekasih.
Banyak orang kian lama kian kapitalis,
Ia suka berjalan sendiri menikmati pekat aroma aspal yang teriknya membakar kulitnya yang sawo matang itu. Berjalan santai diantara mobil dan motor orang orang. Tapi? Raut mukanya penuh bahagia, senyum itu ikhlas sekali kekasih. Senyum itu bikan tependar bukan karena peradaban ataupun keterpakasaan. Tapi, lihat apakah ia terlihat memakai topeng agar tidak tersisihkan oleh jalanan? Disisihkan dari sosial? Disisihkan soal strata? Tidak. Lihat dia tetap tegap bejalan menapak kehidupan yang fana ini kekasih.
Banyak orang kian lama kian kapitalis,
Komentar
Posting Komentar