Mawar yang telah lalu.
Kembali, haru udara menderu ruangan kamarku. Sesak sampai terisak, hatipun tersedak. Suhu dalam kamarku tak menentu hilang suasana arah tuk kembali apa adanya. Ranum sudah, mawar merah muda waktu itu. Yang kubeli sebagai penghangat harimu. Kini mawar itu layu, sudah waktunya ia layu berganti baku dengan warna cokelat kelamnya. Kelopak bunga mulai tercerai lantas jatuh beriringan sembari waktu yang kian menggilas pilu. Kini; Mawar itu sebagai histori sebagai tanda adanya kita. Kita yang pernah berjalan beriring dan saling jatuh terderai ambisi. Kita yang pernah saling mengecap dan berucap kini hanya saling menatap. Tatap satu sama lain dengan mendoakan keikhalasan. Harap sebagai ingatan, rasa sebagai penanda dan hati sebagai pendera. Untukmu kekasihku, kau yang pernah beriring bersama dengan waktu yang kian singkat itu. Sini mari; saling mendoakan semoga kita selalu romantis walaupun sudah diambang pelipis yang mulai terkikis lantas berakhir tragis. Kekasih; Aku mencintaimu bak ...