Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

Mawar yang telah lalu.

Kembali, haru udara menderu ruangan kamarku. Sesak sampai terisak, hatipun tersedak. Suhu dalam kamarku tak menentu hilang suasana arah tuk kembali apa adanya. Ranum sudah, mawar merah muda waktu itu. Yang kubeli sebagai penghangat harimu. Kini mawar itu layu, sudah waktunya ia layu berganti baku dengan warna cokelat kelamnya. Kelopak bunga mulai tercerai lantas jatuh beriringan sembari waktu yang kian menggilas pilu. Kini; Mawar itu sebagai histori sebagai tanda adanya kita. Kita yang pernah berjalan beriring dan saling jatuh terderai ambisi. Kita yang pernah saling mengecap dan berucap kini hanya saling menatap. Tatap satu sama lain dengan mendoakan keikhalasan. Harap sebagai ingatan, rasa sebagai penanda dan hati sebagai pendera. Untukmu kekasihku, kau yang pernah beriring bersama dengan waktu yang kian singkat itu. Sini mari; saling mendoakan semoga kita selalu romantis walaupun sudah diambang pelipis yang mulai terkikis lantas berakhir tragis. Kekasih; Aku mencintaimu bak ...

Kembali.

Mari menata bangku yang berantakan itu, menata bangku yang kiranya jatuh berserakan karena badai tempo lalu. Kiranya badai itu hadir karena kita undang sebab; Kita menginjinkan badai itu mengaduk semuanya. Apa tindakmu setelah itu? Menata ulang atau mengkaji untuk tanggal? Akankah badai itu berganti? Lantas Tuhan mengijinkan hujan datang untuk meneduhkan? Apa Tuhan menggariskan keindahan dalam kehampaan. Tuhan; Ketiadaan ini semoga lekas ada.

Setapak.

Sini singgah sebentar kekasih, akan aku ceritakan tentang secuplik kehidupan pak tua yang berjalan didepan jalan itu. Ia suka berjalan sendiri menikmati pekat aroma aspal yang teriknya membakar kulitnya yang sawo matang itu. Berjalan santai diantara mobil dan motor orang orang. Tapi? Raut mukanya penuh bahagia, senyum itu ikhlas sekali kekasih. Senyum itu bikan tependar bukan karena peradaban ataupun keterpakasaan. Tapi, lihat apakah ia terlihat memakai topeng agar tidak tersisihkan oleh jalanan? Disisihkan dari sosial? Disisihkan soal strata? Tidak. Lihat dia tetap tegap bejalan menapak kehidupan yang fana ini kekasih. Banyak orang kian lama kian kapitalis,

Semu.

Lalu lalang hambur perasaan. Suara bising roda dua menggerung kerak aspal. Deru aspal bercampur entitas tentang hidup. Hidup tentang, senang ataupun tenang. Harapan dan doa selalu beriringan dalam keseruan atau kesemuan. Semua harapan akan ujugnya hilang jua, asa tentang alur temaram jua. Oh gusti, berikan hamba ketenangan dalam bersikap atau pun berbuat.

Tawanan

Sekarang diriku adalah tawanan kesangsian; Kerumunan jiwa yang mengelak bergerak dalam arak.

Sinar Jingga

Sebab kekasih, duka dan nestapa selalu beriringan. Juga duka dalam kerelaan mengikhaskan. Kekasih, rawat juga bahagia selayaknya kau merawat dirimu. Karena kelak kebahagiaan akan datang dengan kerelaan berlatarkan tema kehidupan. Kekasih kau tau? 'Sebab tissue tak pernah kemarau' Karena pada saat mencinta pasti kita kenal yang namanya air mata. Dan kekasih kau tau kenapa aku harus disini?; Sebab aku adalah orang yg akan meghapus semua derai air matamu itu yg akan berlalu membasahi pipimu yg merah merona jingga layaknya senja.