Postingan

Salam Terakhir

Gambar
Sesekali aku menjenguk berandamu tempatku berbagi, tempatku pulang atau tempatku berteduh Berandamu itu yang kutuju dalam perempat waktu khayalku sedang merindu   Gelandangan bak tunawisma tapak t ergelncir dari pijak, tersapu dari rindu dan terpinggirkan tatkala menepi Jingga senja tak lagi berbinar tak berpendar, tak terbayar tertutup abu balut satir waktu.  Puanku; berandamu kini terabaikan bolehkah aku mengajukan sebagai pemilik beranda itu, Lagi? https://instagram.com/p/BRXvMLlghIrMwNKOgYfV7XLAkkz9yzYmtman7U0/

Diam diam kucuri senyum dalam kenangan

Waktu berkelimpahan, layaknya daun gugur jatuh. Mereka tak terkelakan, jatuh dan hanya menunggu waktu rapuh dan terlupakan. Logika mulai bergurau dengan keyakinan dalam keyakinan yg menurutku itu gurauan waktu. Aksara terangkai namun cerita susah terurai entahlah, kurang korelasi diri. Minor, semua bunyi nada yang menggantung dan asa sedikit tercekik. Jatuh, tenggelam suatu kegembiraan dalam romansa. Memikat namun terhisap dalam duka. Berlarut dalam nestapa. Senyumlah manisku, dalam setiap kegembiraan kenangan kita dalam bingkai yang tertata rapi. Syaraf senyumku mulai nanar, tawa bibirku mulai ragu. Tak ada sapa, tawa atau canda. Hanya sisa resap dalam ketangguhan akal. Baiklah, doa selalu bersenandung dalam kenang. Puan, kata jadi pembelajaran; untuk kita, tuanmu kelak. Siapapun dan kapanpun. Baik! Haru biru hanya nuansa, dan rasa kekal adanya. Rezte avec moi. Puan senja yang berkelana dalam pelupuk itu :)

My Boss My Hero

Pahlawan-ku, ia tak susah-susah berperang beradu dengan pelor dimedan perang. Ia tak perlu jubah atau mempunyai kekuatan super untuk menyelamatkan bumi dari gempuran monster. Ia pahlawan dalam hidupku, dengan kesedeharnaan dan keramahanya yang senantiasa membuatku takjub hingga saat ini. Senyumnya yang selalu kudamba setiap pulang kekampung halaman ini. Ia pula yang mengajariku untuk menapaki jalan ini, sedari umur 1 tahun sampai 21 tahun sekarang. Ia juga yang tak pernah lelah mengajari indahnya hidup dalam balutan kedamaian. Walaupun sekarang ia hidup sendiri; sebab sewaktu aku masih dalam sekolah dasar kiranya kelas 3, mbah putri berpulang ke "rumah" karena sakit. Namun, Ia tetap tegar menjadi imam keluarga kecilnya dengan sahaja, tawa dan tentunya sederhana. Aku bahagia bisa tumbuh besar seperti ini karenanya. Perkenalkan, beliau adalah mbah atau eyangku. Ia yang merawatku sedari balita sampai sekarang menuju tua. Di umurnya yang sudah terbilang tidak muda, ia se...

Apa?

Gambar
Gumamku pada waktu setengah malam, melepas semua resah tentang aku pun yang tiada tahu menafsirkan rasa. Rasa seorang puan, tentang bermakna kehampaan? atau tentang sebuah kecemasan? Entahlah. Hirup asap rokok yang memuakan, tentang kepulan ribuan keruh yang mneyeluruh. Ah pikirku penat saja. Penat akan kecemasan? layaknya anak kecil yang kehilangan sentuh kegemberiaan. Biru, suasana apa saja terpapar namun redam, membias pikirku dalam kacamata tua yang usang.  Sendu, haru dan Biru gambarku pada suasana menjalani waktu yang bergelimpangan, kerinduan akan rasa senantiasa didamba walaupun entahlah esensi cinta sendiri itu apa. tak bisa digambar atau diungkapkan. cukup menjalani dan merasakan. Bertuah sekali kata cinta itu menurutku tentang sekepul masalah yang rapuh yang bisu menyeruak untuk diucap. Ah manusia rapuh, otakmu tak mau bersinergi dengan rasamu gumamku sembari melepas asap. Namun apabila engkau pagi yang mendamba matahari, sedangkan aku malam yang mendamba bulan? ...

Sinar Tepi Senja

Suasana kotaku tengah beradu dalam sinar senja dan rintik hujan kasih, Hatiku yang sedang berdialog tentang rindu, atau memang hanya wujud akan rasa yang senantiasa senang menari. Entahlah. Embun datang memainkan perannya dikala senja. Datang dari bekas hujan dalam pegunungan mengiringi rasa rindu. Bermandi sinar senja yang beradu dengan warna abu ke putihan. Rindang pohon digelayuti air yang menetes perlahan tampak terpapar warna pekat merah ke-jinggaan. Titik tentang kisah senja dalam rimbunya pohon pinus beradu dalam tawa meradang tentang kekasih pada wujud paparan sinar tepi senja dalam warna merah pekat yang hangat. Begitu jua ketika aku menatapmu kasih, seperti terlena akan waktu tapi waktu berlalu tanpa waktu tahu menahu akan pekat rindu-ku. Sekejap saja dalam rinai hujan aku ingin berada dalam dekap walau itu sekejap aku menetap dalam teduhnya lengan tanganmu dan lapang rasamu walau dengan tatapku yang haus akan-mu. Tanpa dimengerti rasa rindu pun begitu menggelayuti lalu men...

Germis Geram

Hujan itu layu, rindukupun sayu. Sayup sayup basah ranting tetasi riak jiwa.  Aku rasa sendu mulai bergelayutan mencari deru, aku mulai terbiasa.  Dalam lorong waktu yang terjal juga aku hidup, dalam kehidupanku yang terjal jua Mendayung ramai bersorak sunyi, suasana hati seperti kaki; Berjalan saja.  Puan, gambarkan lukisan waktu tentang kita. Tentang kita yang kurang bisa mengerti arang melintang.  Bulan malam ini bersinar terang, berpendar rona parasmu. Awan menyerang, berarak perlahan menutupi ke elokan bulan itu.  Aku sadar, bahwa akupun mulai redup, redup, hingga akhirnya. Merah marah menutupi kelam.