Waktu berkelimpahan, layaknya daun gugur jatuh. Mereka tak terkelakan, jatuh dan hanya menunggu waktu rapuh dan terlupakan. Logika mulai bergurau dengan keyakinan dalam keyakinan yg menurutku itu gurauan waktu. Aksara terangkai namun cerita susah terurai entahlah, kurang korelasi diri. Minor, semua bunyi nada yang menggantung dan asa sedikit tercekik. Jatuh, tenggelam suatu kegembiraan dalam romansa. Memikat namun terhisap dalam duka. Berlarut dalam nestapa. Senyumlah manisku, dalam setiap kegembiraan kenangan kita dalam bingkai yang tertata rapi. Syaraf senyumku mulai nanar, tawa bibirku mulai ragu. Tak ada sapa, tawa atau canda. Hanya sisa resap dalam ketangguhan akal. Baiklah, doa selalu bersenandung dalam kenang. Puan, kata jadi pembelajaran; untuk kita, tuanmu kelak. Siapapun dan kapanpun. Baik! Haru biru hanya nuansa, dan rasa kekal adanya. Rezte avec moi. Puan senja yang berkelana dalam pelupuk itu :)