Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Diam diam kucuri senyum dalam kenangan

Waktu berkelimpahan, layaknya daun gugur jatuh. Mereka tak terkelakan, jatuh dan hanya menunggu waktu rapuh dan terlupakan. Logika mulai bergurau dengan keyakinan dalam keyakinan yg menurutku itu gurauan waktu. Aksara terangkai namun cerita susah terurai entahlah, kurang korelasi diri. Minor, semua bunyi nada yang menggantung dan asa sedikit tercekik. Jatuh, tenggelam suatu kegembiraan dalam romansa. Memikat namun terhisap dalam duka. Berlarut dalam nestapa. Senyumlah manisku, dalam setiap kegembiraan kenangan kita dalam bingkai yang tertata rapi. Syaraf senyumku mulai nanar, tawa bibirku mulai ragu. Tak ada sapa, tawa atau canda. Hanya sisa resap dalam ketangguhan akal. Baiklah, doa selalu bersenandung dalam kenang. Puan, kata jadi pembelajaran; untuk kita, tuanmu kelak. Siapapun dan kapanpun. Baik! Haru biru hanya nuansa, dan rasa kekal adanya. Rezte avec moi. Puan senja yang berkelana dalam pelupuk itu :)

My Boss My Hero

Pahlawan-ku, ia tak susah-susah berperang beradu dengan pelor dimedan perang. Ia tak perlu jubah atau mempunyai kekuatan super untuk menyelamatkan bumi dari gempuran monster. Ia pahlawan dalam hidupku, dengan kesedeharnaan dan keramahanya yang senantiasa membuatku takjub hingga saat ini. Senyumnya yang selalu kudamba setiap pulang kekampung halaman ini. Ia pula yang mengajariku untuk menapaki jalan ini, sedari umur 1 tahun sampai 21 tahun sekarang. Ia juga yang tak pernah lelah mengajari indahnya hidup dalam balutan kedamaian. Walaupun sekarang ia hidup sendiri; sebab sewaktu aku masih dalam sekolah dasar kiranya kelas 3, mbah putri berpulang ke "rumah" karena sakit. Namun, Ia tetap tegar menjadi imam keluarga kecilnya dengan sahaja, tawa dan tentunya sederhana. Aku bahagia bisa tumbuh besar seperti ini karenanya. Perkenalkan, beliau adalah mbah atau eyangku. Ia yang merawatku sedari balita sampai sekarang menuju tua. Di umurnya yang sudah terbilang tidak muda, ia se...