Germis Geram
Hujan itu layu, rindukupun sayu. Sayup sayup basah ranting tetasi riak jiwa. Aku rasa sendu mulai bergelayutan mencari deru, aku mulai terbiasa. Dalam lorong waktu yang terjal juga aku hidup, dalam kehidupanku yang terjal jua Mendayung ramai bersorak sunyi, suasana hati seperti kaki; Berjalan saja. Puan, gambarkan lukisan waktu tentang kita. Tentang kita yang kurang bisa mengerti arang melintang. Bulan malam ini bersinar terang, berpendar rona parasmu. Awan menyerang, berarak perlahan menutupi ke elokan bulan itu. Aku sadar, bahwa akupun mulai redup, redup, hingga akhirnya. Merah marah menutupi kelam.